Tepat sekali, besoknya Don kembali ceria. Ya,
dia mulai tergila-gila lagi dengan Belle. Atau mungkin wanita lain. Hubunganku
dengan Don memang sangat rumit, aku dan dia bukanlah pacar, tapi dia selalu ada
ketika aku butuh dan begitu juga sebaliknya. Dan baik aku maupun Don sudah
sangat menikmati.
“Finally,
Belle sadar kalau dia butuh aku,”
“The
you have a date tonight, right?”
“Sure.
Hari ini kamu ada acara kemana?”
“Nganterin kerjaan ke kantor, shopping some groceries, and meet Melia and Dwinda as usual,”
“Ok young
girl, enjoy your day, aku harus
ke kantor, bye.” Dan dia mencium
keningku seperti biasa.
Hari ini aku harus ke kantor mengantar
beberapa tulisanku, kemudian belanja beberapa keperluan rumah yang mulai
menipis, pulang kerumah, dan bertemu gadis-gadis genit.
Nanny
cafe and resto, disinilah tempat kita biasa bergosip dan
berbagi semua keluh kesah. Melia selalu benci pembicaraanku mengenai Don, ya,
dia memang sangat tidak menyukai kelakuan Don, kelakuan, bukan orangnya.
“Hey
ladies, how’s your day..”
Melia pun mulai membuat riuh suasana.
“Hari ini gue ngerasa seperti di surga, lo
tau, suami gue beliin gue mobil baru, oh, this is a big sureprise, kalo lo tadi
amatin, mobil yang paling kinclong itu mobil gue, he bought me a hammer,
ladies, oh, I can’t believe this!” dan Dwinda mengawali ceritanya hari ini.
“Really?
Congratulation, Paul is the best husband ever.” Kataku.
“Dan lo harus punya suami, Loni,” dan Dwinda
pun mulai mengingatkan bahwa prinsip ku itu salah.
“Mungkin, tapi itu sepertinya sangat
menyiksaku, you know? I and Don, it would
never happen,” kataku.
“You
and Don will never ever together as a wife and husband, you need the other’s
and better one to be your husband. Right?” dan Melia pun mulai
berargumen.
“Up to
you, yang jelas baru semalem Don mabuk karena patah hati, dan pagi ini dia
sangat bersemangat, dia emang bener-bener memiliki emosi yang tidak stabil, dan
aku sangat suka itu.”
“Loni, lo kenapa sih masih aja betah tinggal
sama cowok yang jelas-jelas selalu gonta-ganti pacar, bahkan lo pernah kan
punya pacar dan lo masih tinggal serumah sama Don, oh, gue ga habis pikir sama
lo,”
“Hahaha, mel, gue mungkin bisa lebih gila
kalo ga ada dia, setidaknya dia bukan pacar, tapi selalu ada buat gue, that’s really great commitment, in my point
of view,”
“I
see, but someday, you will need a serius relationship,you don’t know how
wonderful marriage is.”
dan Dwinda pun memperkuat argumennya
mengenai pernikahan.
“Dengan cemburu, pertengkaran, ikatan, campur
tangan mertua, tangisan anak yang sangat berisik, rumah yang berantakan, oh,
gue belum bisa bayangin.” Kataku.
“Oiya, ladies,
minggu depan gue terbang ke Paris, you
know, paris fashion week, I have invited for my magazine, ada yang mau
nemenin gue?” Melia pun membeberkan kabar terbaiknya hari ini dan menghentikan
perdebatan mengenai pernikahan. Pokok bahasan yang tidak akan mungkin ada
ujungnya antara aku dan Dwinda.
“Gue ga bisa, you know, Paul ngajak gue ke
acara kenegaraan,” dan Dwinda pun bertingkah seperti layaknya seorang istri.
“Dan lo Loni?”
“Gue? Hmmm.. Yes, I really will, Don pasti
ngijinin, hahaha..”
“Hahaha, lo gila, harus gitu minta ijin sama
Don, he is not your husband or boyfriend?”
“Hahaha, I
know, but he is my big boy,” kataku. to be continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar