Minggu, 02 Agustus 2015

PDA #2


Dan akhirnya weekend ini berakhir dengan atasanku. Namanya Teddy, usianya 5 tahun lebih tua dariku, dan dia memiliki seorang istri. Ya, seharusnya aku yang menjadi nyonya Teddy, tapi perjodohan dua kerajaan itu tidak bisa dibatalkan. Aku yang sudah mencintai lelaki ini selama 5 tahun, terputus karena daulat mamanya Teddy. And finally, we do this dirty relationship. Dan akhir-akhir ini aku sudah tidak begitu  menikmati hubungan gila ini. Aku yang sekarang sudah 30 tahun harus memikirkan kehidupanku sendiri. Apa mungkin seumur hidup aku harus menjadi kekasih simpanan anak seorang konglomerat? Dan rasanya sudah bosan bertemu dengannya setiap hari entah di kantor atau di luar kantor. Kamu tau ketika kamu menjalin hubungan dengan atasanmu sendiri, apa yang terlintas ketika kamu menciumnya? Ya, deadline!
Malam ini sedikit lebih romantis karena efek gerimis, ditambah dia yang tiba-tiba berhenti membicarakan tentang pekerjaan. Aku tau, orang pernah bilang bahwa pasangan yang baik adalah pasangan yang bisa diajak diskusi dalam hal apapun, apapun, termasuk pekerjaan kantor. Dan masalahku adalah ketika dia meminta pendapat tentang suatu hal mengenai pekerjaan, dinner romantis di malam ini terasa seperti meeting.
“Stop talking about your shit working, okey?”
“Hahaha, okey, it feels like meeting, right?”
“See?”
“Ya, lets talk about us,” katanya.
“Us? You and me? Apa yang perlu dibicarakan, hahaha,”
“Iya, just let it flow,”
“Ya, let it flow, and Im growing older,”
“No, you stay young,”
“Munak, hahaha, liat muka aku, tanda-tanda aging dimana-mana, you know, Im 30 years old, kamu mau aku jadi perawan tua, hahaha, so let me live my life without you,”
“Hey, kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?”
“I just think, aku ga mau ya kayak Bu Maria, yang terlalu setia sama mantannya sampe umur 45 tahun masih single,”
“Kamu kenapa sih?”
“Ted, Im 30 now, dan aku ga akan pernah bisa kamu nikahi, so, let me marry another man, okey?”
“Oh, jadi ini mau kamu?!” tiba-tiba nadanya meninggi.
“Aku ngomong baik-baik, lets discuss it,”
“Untuk apa?! Kamu udah ga mau nunggu aku lagi?!”
“Nunggu kamu?! Berapa tahun lagi? 10 tahun? 20 tahun? Selamanya? Hey, this is not a fairytale, Im not a Juliette,”
“Bukan itu maksud aku,”
“Terus mau kamu apa? Selamanya jadi pacar simpanan kamu? You now, I feel like Im bitch,”
“Hey,” dan dia memelukku. Itu yang selalu dia lakukan untuk meluluhkan hatiku.
“Kamu lebih baik pulang, okey?”
“But I wanna stay,”
“No, back to your home, you suppossed to be there, bye,”  (to be continue)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar