Minggu, 29 Maret 2015

3 Shortdays #5



Tepat pukul 5 sore mobil Allan sudah terparkir di tempat biasa. Dia begitu charming mengenakan Charcoal Liquid Ultra Skinny nya Topshop.
You look so cute, boy..” godaku.
“Oh, just cute? Maybe cool?”
“Hahaha, no, just cute,” ejekku.
Ok, just cute, cute for me means cool.”
“Ya ya ya, dasar kamu, ya, you are so cool, and Iove it.”
Let’s go to your apartement and your time to dress up.”
“I am so antusiastic. How abaout your mom? Kamu ga jemput mama kamu?”
As usual, dia langsung berangkat dari kantor, sayang.”
“Ok..”
Sesampainya di apartemen aku pun langsung ke kamar mandi dan kemudian berlari ke ruang pakaian dan sibuk menyiapkan baju terbaikku.  Akhirnya pilihanku jatuh pada Zara Long pleated lace dress pemberian Allan, kemudian aku padu padankan dengan Kurt Geiger raffia wedges dan Hermes Pink Birkin 35cm Original Togo Leather Handbag peach. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun segera memakai semua atribut itu.
“Have you done?”
“Not yet, dear, just for a second..” jawabku sedikit berteriak sambil memakai Buch + Deichmann Denmark Pink Lucite Diamond Earrings. Dan sebagai penutup aku pun menambahi sebuah jam louis vuitton brown strap and metal strap.
“I have done!” kataku dengan sangat antusias.
“You look so classy honey, I love it!” inilah pujian terindah yang pernah aku dengar dari seorang Allan.
Akhirnya, aku bertemu untuk kesekian kalinya dengan Mama nya Allan, and I don’t know why, I always feel so nervous.
“Hallo Andrea, udah lama kita ga ketemu, tante kangen sama kamu, kapan-kapan main ke rumah dong,” itulah Mama nya Allan, sangat ramah, terbuka, dan begitu baik.
“Iya tante,”
“Denger-denger kamu udah kerja ya, dimana?”
“Iya tante, di majalah LF,”
That’s one of the greatest fashion Magazine in Indonesia, kamu suka fashion ya?”
“Begitulah tante, hehe”
“Posisi kamu disana?”
Stylish tante,”
Great, Allan memang ga salah pilih, kapan-kapan boleh deh nemenin tante liat fashion show.”
“Dengan senang hati tante,” kataku dengan penuh antusias. Mamanya Allan adalah salah satu designer ternama di Indonesia.
“Mungkin kamu bisa meneruskan kerjaan tante, kamu taulah si Allan ga akan mau jadi designer,”
“Duh, berat tante, aku ga ada apa-apanya dibanding tante, hehe..”
Dan perbincangan pun sangat menyenangkan, berkutat mengenai fashion dan fashion. Sementara Allan hanya terdiam melihat aku dan Mamanya sangat antusias membiacarakan tentang fashion. Seperti dua orang yang sedang reuni, sampai-sampai dia terlupakan.
“Allan, kenapa kamu diam saja? Mama tau, kamu terpana kan melihat Andrea, she is so beautiful, right?”
“Yeah, but I don’t know what both of you talking about,”
“Haha, this is lady’s room,” tambah mama nya Allan.
“Yeah, now I still standing in front of lady’s door.”
“Ok, Mama nyerah, so, you wanna go back to London for tomorrow, right?”
“Yes, Mom, and I must stay there longer than before.”
“Oh, we gonna missing you so much kid, is it right Andrea?”
“Absolutely, hehe..”
Setelah sedikit larut malam, akhirnya kami pun pulang. It’s the greatest dinner ever. Benar-benar keluarga yang harmonis. Aku merasa memiliki keluarga ketika bersama Allan, ya, mama papa ku meninggal ketika aku masih kecil, sementara aku dibesarkan oleh seorang nenek yang meninggal 1 tahun yang lalu. Dan sekarang, aku resmi sendirian.
“Hey, kok kamu melamun?”
“Ha? Apa?”
“Pantesan, aku nanya ga didengerin, mikirin apa sayang?”
“Oh, ga kok, I just think how I miss you started from tomorrow,”
“Hey, we just long distance right, we still live in the same world,” hibur dia.
“Sure, and I’m gonna enjoy it?”tanyaku dengan sedikit tidak yakin.
“Yes! You will..”
“Ya, I will enjoy it.” Kataku sambil tersenyum ke arahnya.
“I love your joy.”

Malam ini jadi malam terakhir untukku bisa melihat wajah ini secara langsung. Rasanya lebih berat dari sebelumnya. 3 hari yang singkat ini terasa jauh lebih indah daripada sebelumnya. Dan dia pun mengantarku sampai di depan pintu.
“Ok, bye my kids,” kata dia sambil mengusap rambutku.
“Please, I wanna you to stay.” Jawabku dengan sangat datar dengan pandangan yang entah kemana.
“I’m gonna missing you soo much.”dia memelukku dengan begitu erat, seolah ingin benar-benar meninggalkanku. Aku tau, dia akan stay di sana lebih lama, karena semester ini dia memutuskan untuk mengambil sidejob di sebuah perusahaan besar, dan itu sangat menyita waktu dan tidak bisa ditinggalkan sembarangan. Harus berapa lama lagi aku menunggu, rasanya malam ini jauh lebih berat untuk melepaskan dia berangkat ke London. Karena aku tau, dia akan jauh lebih sibuk dan waktu untukku memikirkan dan menghubungiku akan jauh lebih berkurang.
“Please stay with me, tonight, hik...” ya, air mata memang tidak pernah bisa berbohong, dia menunjukkan kejujuran perasaannya.
“Ok, this is our last night. I will stay with you,"   (to be continue)

Sabtu, 28 Maret 2015

3 Shortdays #4




# Day 2

Pagi-pagi sekali Allan membangunkanku, bahkan di saat hari masih gelap.
“Bangun sayang,” sambil mengusap pipiku.
“Hmmm... Ini masih pagi buta dear, I’m so sleepy.”
“Hey, ini udah jam 4 sayang, sudah lama kita ga liat sunrise bareng, wake up, lazy kids.”
“Emmm, iya iya.”
Dengan masih mengenakan the Jane pattern nightdress from BurdaStyle. dia pun menarikku ke mobil, dan dia membawakanku sebuah jaket.
“Ini, pakai jaket kamu, cold outside.”
“Yaaaaaa..” jawabku sedikit belum begitu sadar.
Benar-benar indah, disinilah tempat kenangan kami, dulu, sebelum dia kuliah di London, hampir setiap pagi kita menikmati sunrise di tempat ini. Kami pun duduk di atas mobil sambil tiduran dengan wajah menengadah ke atas. Pagi ini benar-benar luar biasa.
Setelah matahari mulai memamerkan sengatan hangatnya, kami pun pulang. Dan aku bersiap untuk pergi ke kantor, sementara Allan masih sibuk membersihkan diri di kamar mandi. Aku pun mempersiapkan apa yang akan aku pakai, sebuah dress pink sweetheart lace bodycon dress bermerk topshop yang aku kombinasikan dengan pearls and vintage lace necklace yang aku buat sendiri dan sepasang pink pearl earings yang aku beli online di seawear. Kemudian aku pun menyiapkan sarapan.
Good morning honey,” sapaku.
Hmm, Pink?  you are in love today?” pagi ini dia mulai menggodaku.
Yeah, I am so in love today.” Kataku sambil tersenyum lebar ke arahnya.
 Sarapan dengan sandwich sangat nikmat jika dilakukan bersama Allan.
“Ok, let’s go to work!” kataku dengan sangat lantang sambil menjinjing sebuah tas Dior 9926 pink Patent Leather Handbag berwarna soft pink.
“Let’s go!” jawab Allan dengan antusias  yang sudah bersiap duduk di jok depan sambil memegangi stir.
“Malam ini kamu lembur lagi ga?”
“Kayaknya sih, enggak, kenapa, dear?”
“Nanti malam Mama ngajakin dinner bareng, bisa?”
Sure!” kataku dengan penuh antusias sambil memakai pink wedge sandals from Topshop Unique. (to be continue)

3 Shortdays #3



Apartement 
Malam ini kami menghabiskan waktu benar-benar berdua. Kami pun mmutuskan untuk menonton film tahun 1967 Bonnie & Clyde dengan ditemani vegable spagetti cassroles ala Cheff Allan. Dia benar-benar memenuhi janjinya, hal sekecil apapun itu, itulah Allan. (to be continue)

Jumat, 27 Maret 2015

3 Shortdays #2



# Day 1

Pagi ini adalah indah. Entah kenapa setiap pagi aku merasa seperti masih sekolah, aku begitu antusias untuk bangun, mandi, dan kemudian sarapan, dan kemudian ponselku berdering.
‘kring kring’
“Sudah siap?”
“Sure..”
“I’m in front of your door,”
“Oke dear, you’re always do the same way,” jawabku dengan senyuman sambil berjalan menuju pintu.
Alan adalah pacarku yang pertama dan sampai sekarang masih menjadi pacarku. Hari hari ku memang selalu menyenangkan dengannya. Pagi ini dia berencana menjemput dan mengantarku ke kantor, ya, karena kebetulan dia sedang holiday. Satu tahun ini aku sudah bekerja di majalah LF dan hidupku memang penuh dengan senyuman dan tawa. Sementara Alan meneruskan S2 di London, dan long-distance ini terasa sangat indah. Aku menikmatinya, benar-benar menikmati.
Hari ini aku memakai salah satu dress favoritku, Zara Leather Dress With Frill dan Pink Long Blazer With Roll Up Sleeve Zara dan dihiasi  Decorated Belt Zara dan tentunya Bucklet Messenger Zara Bag. Aku memang sangat antusias sekali saat membicarakan tentang dress, shoes, bags, belt, hat, and many more. Ketika aku mengenakan dress, aku seperti merasa ringan dan ceria dan dress adalah satu pakaian wajib untukku. Aku tidak pernah sekalipun memakai pants, mungkin karena sejak kecil aku selalu memakai dress. Dan ketika aku tidak memakai dress, I just feel like I’m naked.
“You look so cheer up today.”
“Thanks, dear, so, how’s your night?” kataku sambil berjalan menuju mobil.
Good, yesterday is the first night here since I back here, so, how about tonight?”
“Tonight? I don’t have any plan.”
“But I have a big plan for you.” Kata dia dengan sangat dingin dan sedikit senyuman liciknya.
“Yeah, you always have  a great plan, dear..”
Dan perjalanan menuju kantor sangat menyenangkan. Bak Andrea Sachs ketika aku mendengarkan lagu Suddently I See nya KT Tunstall setiap pagi.
I know, this is your daily playlist, right?”
“Yeah, this is one of my spirit.” Kataku sambil bergumam bernyanyi lagu suddently I See.
“Oke tuan putri, sudah sampai kantor kamu, nanti aku jemput jam?”
Five.”
Ok, take care.” Dan setelah ciuman di kening itu, finally, welcome to the fashion world, terikku dalam hati.
Aku berjalan dengan penuh antusias mengenakan Topshop Wand Cream Printed Espadrilles bersama aksen bunga nya.
Good morning..” sapaku dengan sangat ceria.
“Selamat pagi, mbak Andrea..” jawab cleaning service yang kebetulan sedang membersihkan lantai.
Hari ini memang sangat menyenangkan dan tiba-tiba sangat tidak menyenangkan ketika atasan mengatakan.
Deadline artikel fashion besok.”  Yeah, this is bad news and means that I don’t have much time with Allan today.
Karena memang waktu adalah berharga untukku dan Allan, jam makan siang sengaja aku habiskan untuk mengerjakan deadline artikel dan terpaksa aku harus menunda rasa lapar yang sangat ini. Sudah hampir 3 jam rasanya aku berada di depan laptop dan mata ini sedikit jenuh, pandanganku pun mengarah pada  jam tangan Louis Vuitton Mens Womens Coffee Belt, dan jam menunjukkan setengah 5, yah, kurang setengah jam lagi, not bad.
Akhirnya, I have done ! Pekerjaanku sudah sangat rapi kemudian dengan penuh semangat pun aku berkemas pulang, tapi sepertinya kantor sudah sangat sepi. Oh, aku pun membuka tas dan segera membuka handphone. Oh, damn ! Ini sudah jam 7 ternyata, dan Allan sudah menelfonku berkali-kali. Aku lupa bilang ke dia kalau aku lembur. Ah! Aku pun segera menelfon Allan.
Sudah 8 kali ini aku menelfon dia, dan dia tidak juga mengangkat. Baiklah, sepertinya dia marah, dan itu wajar. Bodohnya aku. Dengan sangat lemas aku pun menuju ke bawah, sepertinya aku harus naik taksi. Ketika aku hendak mencari taksi, tampak sebuah mobil terparkir sendiri di depan kantor, ‘Itu mobil Allan!’ teriakku dalam hati, dan aku pun segera menuju ke arah mobil itu. Aku tengok dari arah luar jendela tampak wajah Allan yang sangat pulas tertidur. Ternyata, dia menunggu ku selama itu sampai dia tertidur, mungkin itu alasan dia tidak mengangkat telfonku tadi. Oh, laki-laki ini memang selalu membuatku merasa lebih berharga.

‘Tok tok’
Aku pun mengetuk jendela mobil dari luar. Dan dia segera terbangun.
“Sorry dear, for today. Oh, you look so tired waiting on me.” Kataku.
“You know, you look more tired than me, may I guess, you haven’t lunch yet, right? I brought you a pizza,”
“Oh, I’m speechless.” Kataku ambil memandang dengan penuh sayang ke arahnya, dia memang segalanya, sabar luar biasa.
No more words, just eat. Maaf kalau sudah tidak hangat, you know, aku beli sejak jam 5 tadi, yah, sebenarnya sore tadi aku ingin mengajakmu melihat sunset sambil makan pizza,”
“Sorry.”
“Never mind, makan yang banyak ya sayang, biar gemukan, kamu terlihat sangat sangat lelah..” hibur dia sambil mengacak-acak rambutku.
Sepulang dari kantor dia pun mengantarku pulang ke apartemen, dia lebih memahamiku daripada diriku sendiri. Badan ini sebenarnya memang sudah sangat lelah.
“Let’s go home,”
“Aku ga mau pulang !” paksaku.
“Hey, kamu capek sayang, masih ada besok kan?”
“Kamu cuman disini 3 hari sayang, I want spend 3 days with only you,”
“Ga harus jalan keluar kan?”
“Pokoknya aku masih mau sama kamu, titik!”paksaku.
“Iya sayang, kita nonton bareng di apartemen, gimana? I will cook for you.”
“Promise?”
“Yes, I stay on your apartement until tomorrow morning.”
“Kelingking?”
“Iya sayang, janji kelingking.” Aku begitu saja percaya ketika jari kelingking ini menyatu. (to be continue)