Kamis, 02 April 2015

Tiffany's Bag #7



Indonesia, akhirnya aku pulang ke kampung halaman.  Aku pun mulai membangun hidup ku kembali. Ya, aku pun membuat sebuah bisnis yang terisnpirasi dari Tiffany. Sebuah brand yang aku dedikasikan untuk gadis yang hanya bisa aku kagumi, “Tiffany’s Bag Company”.
Semua hidupku berubah semenjak kepulanganku dari Spanyol. Aku pulang dengan meninggalkan sebuah luka. Setelah 2 tahun berjalan semenjak hari itu aku masih belum bisa melupakan Tiffany. Dia memang benar-benar menyita semua ruang hatiku. Kadang akal sehat ini terhapus dengan nama Tiffany dan Tiffany. Bodohnya, bahkan wanita itu tidak akan mungkin memikirkanku satu inchi pun.
Siang ini aku berencana untuk menuju kantor, bersyukur setidaknya nama Tiffany membawa keberuntungan untuk bisnisku. Walaupun aku tidak bisa mendapatkan hati Tiffany yang sebenarnya. Dan aku pun menuju ke sebuah coffe corner untuk menemui sahabat lamaku.
“Lo apa kabar?”
“Gue semakin gila, haha, lo?”
“I’ve got your room!!” dia mulai antusias.
“Congrat ya, akhirnya, lo bisa dapetin jabatan itu juga, hahaha..”
“Hahaha, thanks. Let’s celebrate it, gue undang lo ke rumah gue nanti malam ya, ada pesta kecil-kecilan, gue harap lo bisa dateng, sekalian ngerayain hari pertunangan gue.”
“Lo tunangan?!!” aku sedikit terkejut.
“Yes, akhirnya gue nemuin cewek yang sangat sempurna, she’s a designer, makanya dateng, tar sekalian gue kenali ke dia,”
“Siapa cewek paling malang itu?”
“Hahaha, enak aja, yah, paling ga gue udah laku, daripada lo, masih aja mikirin cewek Spanyol yang ga mungkin bisa jadi bini lo itu, lo wajib dateng tar malem, banyak cewek lajang disana, haha, lo bisa milih deh, dari muka lokal, interlokal, bahkan internasional, haha..”
“Bisa aja lo,” jawabku ketus.
“Kalo lo ga dateng, lo gue end. Haha. Gue cabut duluan ya, ada janji sama calon bini gue buat jemput client penting dia.”
“Ya sana.”  (to be continue)

Tiffany's Bag #6



Satu minggu berlalu sangat menyenangkan, selain perbincangan tentang Louis. Dan sore ini Tiffany mengajakku menikmati taman di sore hari.
“Hey, May I ask something?” tanyaku.
“Sure, what?”
“Why do you always wear that bag?”
“I love this bag, I made this bag by my hand with my mom, and this is my last bag that I made before I got this blind..”
“So, this bag have alot of history?”
“You’re absolutely right,” kemudian dia tersenyum dengan sangat manis.
“Louis talked to me that I look so beautiful with this bag, he always make me fly, and he ever said that I look like a girl on Breakfast Tiffany’s movie, so funny..”
“Do you love him so much?”
“Sure, no one in the world could change him.” Jawabnya dengan sangat tegas. Baiklah, aku harus menyerah. Aku tidak akan mungkin bisa menggantikan Louis. Aku Rey, bukan Louis.
“Ok.” Dan suasana sangat hening dalam beberapa menit.
“By the way, actually I miss to make some bags,”
“Why don’t you go to see the doctor? Even just to know about your eyes condition.”
“Honestly, I really want, but I can’t imagine my eyes without Louis.”
“You just afraid on your past. You still have a future, Tiffany, and you have a chance to see the world again.”
“No, I don’t have a future anymore since Louis died.”
“Why don’t you open and repair your life again, you are young, pretty, there’s is big future in front of you, you just stuck with your past.”
“Hey!!! Why you talk about my future?!! You even don’t know anything about me!! You just a tourist, you don’t have any control about my life.” Kata-kata tourist membuatku semakin tidak dapat menahan rasa emosi. Selama ini dia masih menganggapku seorang turis.
“Yes, you’re right. I’M JUST A TOURIST.  I’m just a tourist who fall in love with you and try to cheer you up, but I think I don’t have a chance to your heart, and now, I’m give up, maybe I should go, bye, Tiffany.” Aku pun kemudian bergegas pulang dan berkemas. Aku tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Mungkin aku terlalu melankolis, tapi aku memang sangat jatuh cinta terhadapnya dan semakin hari rasa sakit ku pun semakin meningkat. Itu membuatku merasa sangat tersiksa.


Satu minggu berlalu sangat menyenangkan, selain perbincangan tentang Louis. Dan sore ini Tiffany mengajakku menikmati taman di sore hari.
“Hey, May I ask something?” tanyaku.
“Sure, what?”
“Why do you always wear that bag?”
“I love this bag, I made this bag by my hand with my mom, and this is my last bag that I made before I got this blind..”
“So, this bag have alot of history?”
“You’re absolutely right,” kemudian dia tersenyum dengan sangat manis.
“Louis talked to me that I look so beautiful with this bag, he always make me fly, and he ever said that I look like a girl on Breakfast Tiffany’s movie, so funny..”
“Do you love him so much?”
“Sure, no one in the world could change him.” Jawabnya dengan sangat tegas. Baiklah, aku harus menyerah. Aku tidak akan mungkin bisa menggantikan Louis. Aku Rey, bukan Louis.
“Ok.” Dan suasana sangat hening dalam beberapa menit.
“By the way, actually I miss to make some bags,”
“Why don’t you go to see the doctor? Even just to know about your eyes condition.”
“Honestly, I really want, but I can’t imagine my eyes without Louis.”
“You just afraid on your past. You still have a future, Tiffany, and you have a chance to see the world again.”
“No, I don’t have a future anymore since Louis died.”
“Why don’t you open and repair your life again, you are young, pretty, there’s is big future in front of you, you just stuck with your past.”
“Hey!!! Why you talk about my future?!! You even don’t know anything about me!! You just a tourist, you don’t have any control about my life.” Kata-kata tourist membuatku semakin tidak dapat menahan rasa emosi. Selama ini dia masih menganggapku seorang turis.
“Yes, you’re right. I’M JUST A TOURIST.  I’m just a tourist who fall in love with you and try to cheer you up, but I think I don’t have a chance to your heart, and now, I’m give up, maybe I should go, bye, Tiffany.” Aku pun kemudian bergegas pulang dan berkemas. Aku tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Mungkin aku terlalu melankolis, tapi aku memang sangat jatuh cinta terhadapnya dan semakin hari rasa sakit ku pun semakin meningkat. Itu membuatku merasa sangat tersiksa.  (to be continue)

Rabu, 01 April 2015

Tiffany's Bag #5



Semenjak malam itu, aku dan Tiffany menghabiskan hari-hari menyenangkan bersama. Setidaknya aku bisa menghibur dia dan aku mendapat seorang tour guide dengan gratis. Dia membawa ku berjalan-jalan menyambangi Spanyol dari segala sudut. Sebenarnya gadis ini adalah sosok yang ceria dan menyenangkan. Aku bahkan semakin jatuh cinta padanya. Tapi aku rasa tidak mungkin, dia terlalu cinta dengan suaminya yang telah meninggal, bahkan dia merelakan matanya hanya untuk suaminya, aku merasa sangat tidak pantas untuknya. Aku tidak ada artinya dibanding Louis.
Tiffany selalu menceritakan kisahnya dan Louis. Apa yang Louis suka, apa yang Louis tidak suka, apa kebiasaan dia, apa hal terkonyol yang pernah dia lakukan. Sangat detail. Bahkan aku tau size celana dalamnya, karena Tiffany tidak melewatkan satu kata pun untuk menceritakan tentang Louis. Sekali lagi Louis Louis dan Louis. Kadang aku terlalu muak dengan semua tentang Louis. Sepertinya gadis ini benar-benar tidak menyadari betapa aku sangat mencintainya. Dengan menceritakan tentang Louis membuatku semakin patah harapan, walaupun tidak bisa aku pungkiri bahwa semakin hari aku semakin mencintainya.  (to be continue)

Tiffany's Bag #4



Tepat pukul 11 malam waktu setempat, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu. Dengan sedikit rasa takut dan was-was aku pun membukakan pintu. Siapa yang datang selarut ini. Dan ketika aku membuka pintu tampak seorang gadis, mungkin ini anak gadis Sam yang dia ceritakan. Tanpa berkata sepatah kata pun gadis itu masuk dan langsung menuju ke sebuah kamar di sebelah kamar tamu. Dan aku, terdiam dan terheran-heran melihat gadis itu. Benar. Dia adalah gadis buta yang aku lihat tadi sore. Aku benar-benar bingung. Dan otak ini penuh dengan teka-teki.
Aku pun terbangun sangat pagi, benar, rasanya aku tidak bisa tidur terlalu lelap memikirkan teka-teki yang sangat merajai otakku. Aku pun menghilangkan penat keluar rumah dengan membawa sebuah kamera. Aku pun mulai dikejutkan dengan hal yang baru lagi. Tepat di beranda rumah Sam, gadis itu duduk dan terus-terusan memeluk  sebuah kemeja.
“Hey, I’m Rey, Sam let me to sleep on his home, and you?”
“Oh, Sam, always do the same way.” Jawabnya tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.
“I’m Tiffany, his daughter. And you are a tourist, right?”
“Yes, thanks for your family kindness.. why don’t you sleep?”
“I can’t. I miss my husband. He never back since that day, he lie on me.” Jawabnya dengan sangat datar.
“So, you do this way everynight?”
“Yes, and I’m happy to be blind like this, because  I don’t want to see the world without him.”
“Oh..” speechless.
“Sam always try to find another man for me, I hate him!”
“I’m sorry if I..”
“It’s Ok, you are not the first. Why he did like this? He even don’t know how’s my feeling? He even don’t know that I have a husband.”
“I’m sorry about that accident..”
“He never die, hik..” dan akhirnya, wanita ini menunjukkan sisi melankolis dan kerapuhannya. Dia berusaha dengan sangat kuat untuk menutupi ini.
“Do you need a shoulder to cry on?” dan dia langsung meraba ke arahku dan menarik tubuhku. Dia memelukku dengan sangat erat. Kasian. Rasa iba ini semakin memenuhi perasaanku. Dia sepertinya sangat rapuh dan kosong.
“I miss him so much, hik hik hik.. why it happened so fast?!! God was so unfair!!! Hik hik hik.. “ aku hanya bisa berdiam.
“God have bigger plan for you someday.”
“No, I have no future. I’m blind, I have nobody anymore, hik hik..”
“Someday, you will understand. Maybe you can see the world again.”
“No! I don’t want to see the world anymore, I just want  to see him.” Sepertinya Tiffany benar-benar tidak ingin sembuh. Dia seperti menghukum dirinya sendiri.  (to be continue)