Tampilkan postingan dengan label competition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label competition. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2015

Opus : Backstage Indonesia Fashion Week 2013


Backstage from Indonesia Fashion Week 2013
You know how nervous it felt, actually those are fake expression, truely, we are frozen, hahaha..
Let me introduce, she is Suheni, my friend in this competition and she had more experience  field than me.
Anyway, I heard that she'll getting married, congratulation dear, I hope it would be your last, hahaha..

Jumat, 01 Mei 2015

Opus : Indonesia Fashion Week 2013


When I saw those tittle means a hardwork paid

DEWANTIKA KUSMONO
JAVA CLASSICAL

Java classical inspiring from batik, you know I want to bring batik for in international field
We have known batik as material for clothes, but have you ever heard those batik applied in leather bag? So this idea bring batik in my leather bags. I did laser it.

Rabu, 29 April 2015

Opus : Indonesia Fashion Week 2013


This is it !
My opus, I design those leather bags
All material from leather and I did laser for everypiece of those bag
thanks for my best partner zamzami, we rock!

Senin, 27 April 2015

Opus : Indonesia Fashion Week 2013


This is one of my biggest achievement in my life as partisipant in this huge fashion event in Indonesia, its Indonesia Fashion  Week!
You know, those nametag as "designer" is like my dream came true
I have to slap my own more than 10 times those day
That's my memorable day and I will tell to my children, even for my grandchildren someday
When I watched those fashion show in TV, and I will tell them proudly, 
"Listen, Mama ever walk on those stage as designer,"

Sabtu, 21 Maret 2015

Jumat, 20 Maret 2015

Selasa, 17 Maret 2015

Opus : Classic Bag




Inspirasi :
Warna cokelat adalah elemen dasar kulit. Merupakan simbol wanita yang natural dan apa adanya. Tampak lebih klasik dengan paduan motif parang yang terkombinasi di dalamnya.
Warna natura kulit menjadi tonjolan pada desain ini. Bahan dasar kulit sapi dipadukan dengan bulu kambing dengan kombinasi warna putih coklat menjadi tampak sangatlah natural. Dikombinasikan dengan motif parang menambah ke klasikan desain ini.


Indonesia Fashion Week 2013 Runway
bag and wooden frame glasses design by dewantika kusmono 
photograph by Sadikin Gani

Minggu, 15 Maret 2015

Precious Moment : Indonesia Fashion Week 2013

Hello opus,
I just found one of my precious cocard in a box. I remember that moment was really precious, becuase once in my live I become the biggest 8 as nominate in Indonesia Fashion Week 2013 Competition as Accessories Designer. I found new experiences, guru, and new friends.




Selasa, 24 Februari 2015

Ayah Untuk Ayah #6



Setelah kami menikah akhirnya aku mulai bisa menerima semua penyesalan Denni, yah, dengan petuah Banu. Dia membuatku mengerti betapa menyesalnya ayah saat ini, dan rasa benciku kepadanya perlahan mulai pupus.
Aku sangat senang setiap kali Banu mengajari Ayah melakukan sesuatu, dari menggunakan sendok, makan, berjalan, dia sangat sabar. Benar-benar sosok ayah yang selama ini aku cari, bahkan Deni, ayahku yang sebenarnya nampak seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan dengan ayahnya, yaitu Banu. Semuanya berbalik, Deni mulai diajari sembahyang oleh Banu. Bahkan Banu meluangkan banyak waktunya untuk mengajari Ayah membaca Al Quran, betap baiknya laki-laki ini. Dia tidak hanya merubah  semua kebencianku, juga berusaha membuktikan bahwa itu semua benar. Aku tidak boleh terus-terusan membenci ayahku sendiri, karena sekarang dia jauh berbeda dengan yang dulu. Memaafkan dan keikhlasan kata Banu. Dan sekarang, hubunganku dengan ayahku mulai membaik, dan aku mulai berani untuk berinteraksi dengan ayahku tanpa ada rasa takut dengan traumatik. Aku benar-benar sangat menyayangi Banu.

Ayah untuk ayah
Mengubah kontras menjadi senada
Ayah untuk ayah
Menukar rasa benci dengan kasih sayang
Menolak rasa takut dan kegelisahan
Ayah untuk Ayah
Butuh berjuta kata untuk menulis betapa mulianya dia
Dan betapa beruntungnya aku menemukan ayah untuk ayahku

 

Senin, 23 Februari 2015

Ayah Untuk Ayah #5



Semenjak hari itu kami lebih sering bertemu, ya, hampir setiap sore kami duduk di meja yang sama dengan menu yang sama dan aku mulai bisa membuka diri. Baru kali ini aku merasaakan hal lain pada seorang laki-laki, ada hal aneh yang terus mendorongku untuk menceritakan semua uneg-uneg kekejaman Deni, semua rasa suka, duka, sedih, trauma, benci, rasanya ada suatu kewajiban untuk dia tahu. Benar-benar bukan hal yang wajar, selalu saja merasakan ketenangan setiap kali berhadapan dengannya. Aku mungkin membutuhkannya seperti aku mencandu kopi setiap sore. Dia sangat bijak, sangat lihai menghilangkan rasa cemas dan resahku, dan begitu terampil membuatku tenang.
Semakin lama aku semakin membutuhkannya. Dan dia hampir selalu ada waktu ketika aku benar-benar butuh, seperti malam ini, di saat aku merasakan trauma yang berlebihan ketika melihat Denni, ayahku, menghisap sebatang rokok di rumah, aku dibayangi rasa takut, ya, rokok itu mengingatkanku dengan kekejaman Denni dulu, dan sekarang aku begitu ketakutan di kamar. Hanya dia yang bisa menghentikan ketakutan ini. Aku menangis, aku gelisah, aku resah, sambil terus-terusan duduk di pojokan kamar sambil menutup wajah.
“Ban, aku butuh kamu.”
“Ya, kamu jangan kemana-mana dulu ya,” dan dengan sekejap dia sudah ada di depan mataku. Dia langsung memelukku dan jiwa  yang panas ini seolah diguyur dan dibanjiri air es, seketika aku langsung merasa nyaman dan tenang. Perasaan takut yang amat sangat itu entah menghilang seketika itu juga. Dan aku pun bisa menangis lepas di pelukan laki-laki ini.
“Kamu tenang, ayahmu sudah tidak seperti dulu, dia tidak punya daya lagi untuk menyiksamu,” dan dia terus-terusan memelukku sambil membelai rambutku. Aku menyadari, aku membutuhkannya melebihi apapun. Dan aku sangat berharap dia selalu ada setiap waktu.
Setelah beberapa saat aku pun mulai tenang. Dia tiba-tiba membisikkan sesuatu di telingaku.
Would you merry me, I really want to protect you every single day.” Dan tidak ada penolakan apapun dariku. Aku memang sangat menginginkan dia, dan hanya dia yang bisa benar-benar mengerti aku dan segala masa kelamku.  (to be continue)

Ayah Untuk Ayah #4



Aku bekerja di sebuah perusahaan germen internasional di Jakarta, dan posisi general manager baru saja aku raih. Andai saja ibu masih hidup, mungkin dia sempat bisa merasakan kebahagiaan di dunia ini. Dan ayah, adalah beban yang sebenarnya aku tidak begitu ikhlas merelakan sedikit kebaikanku untuknya. Mengalami kecelakaan karena mabuk dijalanan, dan terkena struk, koma yang begitu lama, dan sampai akhirnya dia berhak hidup dan menyusahkanku. Aku harus mengurus dan membiayai pengobatan dia dengan terpaksa.
Usiaku mulai menua, dan aku sama sekali belum berfikiran untuk menikah karena masih dibayang-bayangi oleh rasa takut. Sampai saat ini belum ada lelaki yang bisa membuka mataku untuk melihat sisi lain dari lelaki itu sendiri, ya, sisi baik dari seorang lelaki. Karena yang ada dibenakku lelaki adalah pusat kekejaman, dan aku hendak jauh-jauh dari kekejaman itu. Hanya ada 1 laki-laki yang menurutku sangat baik, yaitu Pak Galih, ayah angkatku.
Sore ini aku sangat lelah, ya, karena bebanku sekarang ini semakin berat dengan adanya ayah. Secangkir kopi yang selalu memberikan ku semangat ketika semuanya mulai kacau, aku duduk sendirian seperti biasanya di kafe ini. Dengan masih menggunakan pakaian kantor yang terlihat sudah kusut ditambah tubuhku yang loyo menjadi sajian para penunjung di café itu. Aku pun mulai merenung apa jadinya nanti kalau aku terus-terusan mengurus ayah, aku masih menyimpan rasa benci dengannya. Kadang aku merasa capek harus berpura-pura baik di depannya, suatu waktu aku sering berfikir untuk membalas perbuatannya kepadaku, namun wajah ibu yang tiba-tiba terlintas selalu saja meredam semua emosiku. Aku benci ayah, dan sampai kapanpun itu tidak akan pernah berubah.
Tiba-tiba suara parau membangunkan lamunku.
“Sendiri? Boleh bergabung?”
“Maaf. Saya sedang ingin sendiri.” Jawabku dengan ketus. Laki-laki yang tidak aku kenal, tiba-tiba datang ke mejaku dan menawarkan untuk duduk dalam satu meja. Benar-benar membosankan. Namun ada satu hal yang aku rasa berbeda, baru pertama kali ini aku tidak merasa cemas dan gelisah ketika berhadapan dengan laki-laki yang baru aku kenal.
“Maaf kalau saya mengganggu, tapi saya terpaksa duduk disini karena sudah tidak ada tempat lain,”
“Tapi saya tidak mengijinkan anda duduk di meja saya.”
“Tapi saya juga membayar di tempat ini, mungkin anda bisa bersugesti seolah-olah saya tidak ada, saya janji tidak akan mengganggu anda.”
“Baiklah, saya anggap anda sudah bergi.”
“Terima kasih banyak, maaf, apa saya boleh tahu anda siapa? Maksud saya nama anda, saya Banu, anda?”
“Maaf sebelumnya, tapi saya anggap anda sudah pergi, dan saya harap anda tidak mengganggu saya. Terima kasih.” Dan akhirnya dia bisa menyumbat mulutnya yang penuh dengan basa-basi menurutku.
Aku baru ingat, aku harus menghubungi dokter baru ayah untuk membuat jadwal konsultasi baru, karena aku sangat jarang memiliki waktu luang. Aku pun mulai menekan tombol ‘call’ di ponselku, dan berharap dokter baru itu adalah seorang perempuan. Secara kebetulan ponsel laki-laki yang menyelinap duduk di mejaku pun berdering, kemudian dia mulai menyambut dengan sapaan,
“Hallo, dokter Banu di sini, ada yang bisa dibantu?” aku mulai menengok ke arahnya, memandang dengan seksama, dan membandingkan suara laki-laki ditelfon dengan laki-laki yang duduk di depanku. Dan dia mulai tersenyum dengan renyahnya.
“Ya Tuhan, ternyata anda yang menelfon saya, benar-benar sebuah kebetulan. Maaf, anda?”
“Saya Jenni, anaknya Deni, kata dokter Pras anda yang akan menggantikan dia selama dia di London,”
“Ya, anda tidak salah, saya dokter baru yang menangani ayah anda.”
“Ya ya ya.. Kapan kita bisa membahas perkembangan Deni?”
“Maaf, maksud anda Pak Deni?”
“Ya, PAK Deni.” Aku pun memberikan intonasi yang lebih jelas ketika mengatakan kata ‘PAK’
“Mungkin besok sore anda bisa bertemu saya di tempat ini, setiap weekend saya selalu kesini, dan saya punya banyak waktu,”
“Ya, jadi besok saya mulai bisa bertemu anda.”
“Begitulah. Maaf, apa anda sering ke tempat ini, tapi sudah sangat lama saya memperhatikan anda. Maaf jika terlihat menakutkan, tapi saya juga hampir setiap malam pergi ke tempat ini, dan andalah satu-satunya orang yang selalu berada di tempat ini setiap sore.”
“Ya, di sini saya melepas lelah.”
“Hampir sama dengan anda, kopi memang jalan dari kebingungan saya,” kemudian dia mulai tersenyum lagi. Benar-benar sosok yang menarik.  (to be continue)