Minggu, 09 Agustus 2015

Sabtu, 08 Agustus 2015

PDA #4


Malam ini aku benar-benar menemui sahabatku, Dilla. Dia sudah sangat bahagia dengan dua anak kembarnya, suami yang setia dan kaya raya, keluarga yang bahagia. Oh damn, sementara aku masih stuck dengan Teddy dan drama kehidupannya.
“Hey, lo kusut amat, ada masalah sama Teeddy?”
“Ya, otak gue ruwet banget, gila, masalah udah kaya jamur dil, dimana-mana numbuhnya,”
“Hahaha, lo udah gila nih, makanya, apa gue bilang, lo putusin tu cowok, cari yang baru, lo cantik, duit juga megang, banyak kali yang ngantri,”
“Lo yakin? Kalo dari dulu banyak yang ngantri sih gue udah move on dari dulu kali,”
“Salah lo nya nutup diri, kapan terakhir kali lo clubbing? Kapan terakhir kali lo ketemu orang baru yang bukan client lo? Sekarang gue tanya, kapan?” ya, benar kata Dilla, bahkan aku lupa kapan aku bergaul semenjak mengenal Teddy. Karena hari-hariku hanya bekerja dan bertemu Teddy.
“Iya, deh, lo paling bener, gue baru aja mutusin Teddy,”
“Serius?!”
“Ya,”
“Then?”
“Kayak yang dulu-dulu, dia mohon-mohon blablabla,”
“Dan kalian balikan lagi akhirnya?”
“No, sampe sekarang sih belum,”
“Belum? So, besok-besok ada kemungkinan balikan?”
“Hahaha, I dont know, tapi gue musti nyari alasan yang kuat buat ngelepasin Teddy,”
“Lo mau tau alasan apa yang bisa bikin Teddy ngelepasin lo?”
“Apaan?”
“A man,”
“Hahaha, bahkan cowok yang gue kenal juga cuma seputaran di kantor, apa iya gue musti macarin bawahan gue, hahaha,”
“Hmmm, I have good idea,”
“Jangan gila lo,” akupun sedikit curiga dengan tingkah MILF ini.
“Gue atur kalian ketemuan, dan lo ga ada alasan buat nolak,”
“Blind date? Gila lo,”
“Hey, awas lo ga dateng!”  (to be continue)

Rabu, 05 Agustus 2015

PDA #3


Monday, Im in love !
Senin ini aku harus melakukan pitching dengan 2 client di tempat yang berbeda. Gila kan? Dan perusahaan memintaku untuk menghandle semuanya. Dan inilah rutinitasku, mobiling, target, dan ekspansi. Dan aku mencintai hari senin seperti aku mencintai Teddy. Semuanya terasa sangat berat tapi aku sangat menikmatinya. So why I called Teddy as Mr.Monday sometimes. Setelah melakukan dua pitching gila itu, seninku berlanjut dengan menemui client baru. Dan aku harus menemui perwakilan dari perusahaan tersebut. Client yang satu ini unik, gila, dan super menyebalkan, God, kenapa aku harus mendapatkan  client ini untuk kontrak satu tahun. So, Im officially insane in this year.
“Hallo, apa kabar?”
“Good, bagaimana dengan iklan campaign untuk perusahaan kami?”
“Konsepnya seperti ini,” aku pun menjelaskan dengan detail tentang ini dan itu. Sementara si gila ini terus saja sibuk memainkan handphonenya. Hey jerk, kamu tau berapa lama orang kreatif kita memikirkan konsep ini? Berapa lemburan yang mereka habiskan untuk mengerjakan pekerjaan ini? Berapa hari kita ga tidur karena pekerjaan ini? Dan lo, dengan santai dan sok nya bahkan mendengarkanku pun tidak, apalagi mempelajari semua konsep yang sudah disiapkan.
“Oh, okey,” Just it. Okey, let me introduce, this stupid jerk namanya Willy, usia lebih muda dariku, sok, sengak, bossy, dan asshole. Aku bahkan semakin gila, belum juga urusan Teddy yang makin rumit, client gila ini menambah ruwet hidupku. Ketika aku melakukan pekerjaan diluar kantor yang kuharapkan akan menjadi hiburan di saat aku tersiksa saat bertemu Ted di kantor, jauh dari harapanku. Dan aku harus lebih sering dengan lelaki ini. 
Setelah menyelesaikan meeting gila ini, akhirnya aku menepi di sebuah coffee shop. Kopi, berikanlah ketenangan dan rasa rileks. Aku harus mengambil cuti sepertinya, dan semoga Teddy, yang atasanku mengijinkannya. Hahaha, bahkan untuk mengambil liburan untuk melupakan Teddypun aku harus meminta ijinnya. Tiba-tiba handphoneku berdering.
“Hallo, kenapa?”  jawabku ketus, ya ini Teddy.
 “Kamu dimana? Masih meeting, aku pengen ketemu kamu,”
“Masalah kerjaan apa pribadi,”
“Kerjaan,”
“Okey, kita ketemu di kantor aja,”
“No, aku kesana, kamu dimana?”
“Are you sure we will talk about job?”
“Huhft, lets talk about us,”
“No, ini jam kerja Ted, like you said, we have to act professional, okey?”
“Okey, huhft, tapi habis jam kantor kita bisa ketemu kan?”
“Ga, aku ada janji sama Dilla,”
“Oh, please,”
“No more begging baby, its over,”
“Pleaseee..”
Bahkan tanpa malunya pria beristri ini memohonku untuk tetap berada di sampingnya. Kalau kamu benar-benar mencintaiku seharusnya waktu itu kamu menolak perjodohan itu, seharusnya kamu membawaku lari dan menikahiku diam-diam, seharusnya kamu tidak mempertimbangkan kalau harus kehilangan kekayaan jabatan dan warisan dari orang tuamu. Kamu begitu serakah dan egois Teddy.  (to be continue)

Senin, 03 Agustus 2015

Minggu, 02 Agustus 2015

PDA #2


Dan akhirnya weekend ini berakhir dengan atasanku. Namanya Teddy, usianya 5 tahun lebih tua dariku, dan dia memiliki seorang istri. Ya, seharusnya aku yang menjadi nyonya Teddy, tapi perjodohan dua kerajaan itu tidak bisa dibatalkan. Aku yang sudah mencintai lelaki ini selama 5 tahun, terputus karena daulat mamanya Teddy. And finally, we do this dirty relationship. Dan akhir-akhir ini aku sudah tidak begitu  menikmati hubungan gila ini. Aku yang sekarang sudah 30 tahun harus memikirkan kehidupanku sendiri. Apa mungkin seumur hidup aku harus menjadi kekasih simpanan anak seorang konglomerat? Dan rasanya sudah bosan bertemu dengannya setiap hari entah di kantor atau di luar kantor. Kamu tau ketika kamu menjalin hubungan dengan atasanmu sendiri, apa yang terlintas ketika kamu menciumnya? Ya, deadline!
Malam ini sedikit lebih romantis karena efek gerimis, ditambah dia yang tiba-tiba berhenti membicarakan tentang pekerjaan. Aku tau, orang pernah bilang bahwa pasangan yang baik adalah pasangan yang bisa diajak diskusi dalam hal apapun, apapun, termasuk pekerjaan kantor. Dan masalahku adalah ketika dia meminta pendapat tentang suatu hal mengenai pekerjaan, dinner romantis di malam ini terasa seperti meeting.
“Stop talking about your shit working, okey?”
“Hahaha, okey, it feels like meeting, right?”
“See?”
“Ya, lets talk about us,” katanya.
“Us? You and me? Apa yang perlu dibicarakan, hahaha,”
“Iya, just let it flow,”
“Ya, let it flow, and Im growing older,”
“No, you stay young,”
“Munak, hahaha, liat muka aku, tanda-tanda aging dimana-mana, you know, Im 30 years old, kamu mau aku jadi perawan tua, hahaha, so let me live my life without you,”
“Hey, kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?”
“I just think, aku ga mau ya kayak Bu Maria, yang terlalu setia sama mantannya sampe umur 45 tahun masih single,”
“Kamu kenapa sih?”
“Ted, Im 30 now, dan aku ga akan pernah bisa kamu nikahi, so, let me marry another man, okey?”
“Oh, jadi ini mau kamu?!” tiba-tiba nadanya meninggi.
“Aku ngomong baik-baik, lets discuss it,”
“Untuk apa?! Kamu udah ga mau nunggu aku lagi?!”
“Nunggu kamu?! Berapa tahun lagi? 10 tahun? 20 tahun? Selamanya? Hey, this is not a fairytale, Im not a Juliette,”
“Bukan itu maksud aku,”
“Terus mau kamu apa? Selamanya jadi pacar simpanan kamu? You now, I feel like Im bitch,”
“Hey,” dan dia memelukku. Itu yang selalu dia lakukan untuk meluluhkan hatiku.
“Kamu lebih baik pulang, okey?”
“But I wanna stay,”
“No, back to your home, you suppossed to be there, bye,”  (to be continue)

Sabtu, 01 Agustus 2015